
PALEMBANG, MEDIARAKYAT .CO — Dua isu panas di wilayah Kertapati kini semakin memantik tanda tanya besar. Setelah muncul pemberitaan terkait dugaan aktivitas BBM ilegal dan polemik di Dapur SPPG Wilayah Kertapati, tiba-tiba datang pesan dari akun misterius yang sesaat kemudian langsung lenyap, tidak bisa ditemukan kembali. Kejadian ini memicu dugaan: pihak mana yang sebenarnya merasa terusik?
Apakah pesan ini datang dari pihak yang terkait dugaan jaringan BBM ilegal yang selama ini menjadi sorotan publik? Atau justru berasal dari lingkungan Dapur SPPG di Kertapati yang baru saja Kemasrindo kasus perlakuan terhadap pekerjanya? Kedua isu ini sama-sama menyentuh kepentingan pihak tertentu, sehingga sulit dipastikan mana yang paling terasa tersenggol. Namun pola akun samaran yang langsung hilang ini semakin menguatkan dugaan adanya rasa takut identitasnya terbongkar ke publik.
Menyikapi kejadian ini, Hery selaku Koordinator Media Center Jurnalis Kertapati (MC-JK) angkat bicara:
“Dua isu ini sama-sama kami soroti berdasarkan fakta yang ada. Jika ada pihak yang merasa tidak benar atau tersinggung, silakan datang dengan identitas jelas, bukan pakai akun samaran lalu langsung menghilang. Itu justru terkesan seperti orang yang merasa benar tapi tidak berani tampil di hadapan publik.”
Hery menegaskan bahwa bentuk intimidasi halus lewat pesan anonim tidak akan mempan. Justru sebaliknya, semakin ada pihak yang mencoba menekan lewat jalur gelap, semakin memacu semangat awak media untuk membongkar kebenaran sampai tuntas.
“Kami tidak akan menebak secara spesifik mana yang terusik — BBM ilegal atau SPPG Kemasrindo. Tapi satu hal yang pasti: kebenaran itu tidak perlu takut terungkap. Kalau tidak ada yang disembunyikan, kenapa harus bersembunyi di balik akun samaran?” tegas Hery.
Awak media tetap membuka ruang klarifikasi yang terbuka dan beridentitas jelas bagi semua pihak yang merasa perlu memberikan penjelasan. Selama belum ada yang berani tampil dengan nama asli, sorotan investigasi akan terus berjalan demi kepentingan publik.



