
JAKARTA, MEDIARAKYAT.CO — Niat I membeli ponsel seharga Rp2 jutaan untuk pemakaian harian berubah menjadi cerita panjang. Ia awalnya hanya meminta rekomendasi kepada N.
Menurut penuturan I, ia mula-mula meminta rekomendasi HP Rp2 jutaan untuk pemakaian harian. N lalu bertanya apakah HP itu akan dipakai untuk live. Untuk kebutuhan live, N menyebut Vivo Y30i, sedangkan Infinix dinilai kalah soal stereo. Ponsel bekas itu disebut sekitar Rp700 ribuan.
I kemudian menegaskan bahwa HP tersebut bukan untuk live, melainkan untuk pemakaian harian. “HPnya bukan buat aku, tapi buat Kakakku, Kakakku tidak pernah live,” kata I.
Di tengah obrolan, I sempat bercanda agar N membelikannya HP untuk live seharga Rp700 ribuan. “Boleh kali beliin di situ HP buat live yang Rp700-an, nanti uangnya ku-transfer,” ujar I.
Pembicaraan kembali ke topik awal. I bertanya apakah Redmi atau Infinix bagus. N menjawab, keduanya bagus asalkan baru. I mengaku sempat tertarik pada Redmi 15C. Namun, harga di tempatnya masih di atas Rp3 juta dan sejumlah toko memiliki rating jelek.
N sempat menyarankan I meminta bantuan saudara yang ada di Jakarta. Setelah itu, N menawarkan cara lain. Jika anggaran sudah ada, ia akan pergi ke konter dan melakukan video call dengan I agar tidak ada prasangka.
“Ya sudah begini aja, kalo dananya udah ada, besok kalau aku keluar, mampir sekalian. Nanti kalau sudah di konter, aku telepon, nanti kamu transfer langsung ke konternya,” kata I menirukan ucapan N. N meyakinkan I dengan mengatakan bulan lalu ia membelikan HP Infinix seharga Rp1.700.000 dan mengirimkan bukti transfer ke konter.
Keesokan harinya, 5 Oktober, sekitar pukul 10.00 WIB I menanyakan, “Bang, bisa ke konter kapan?” N menyarankan lanjut obrolan lewat panggilan telepon dan mengatakan berencana pergi sore karena cuaca panas. I mengatakan uang Rp1,2 juta dititip di kakak iparnya.
Setelah telepon, I bertanya apakah barangnya kemungkinan ready. N menjawab, “Ada, Ready, kalo gak ready ngapain dibeli?” I menjawab, “Ya kali lagi kosong karna permintaan lagi banyak.” N menjawab, “Ya kalo kosong cari konter lain lah, di sini banyak konter.”
Sekitar pukul 15.40 WIB I kembali menghubungi N dan mengatakan uang Rp1,2 juta sudah dipegang, dan Rp500 ribu masih di kakaknya. N menanyakan, “Jadi Infinix?” I menjawab, “Kalo ada Redmi sih Redmi dulu Bang.” N menyebut RAM 6/128 di tempatnya masih Rp2 juta. I bertanya harga Infinix RAM 4/128. N menjawab Rp1,8 juta.
“Yaudah TF aja ke aku, ntar aku tambahin, kalo udah dikonter nanti aku telpon, sekalian bayarnya nanti di konter pake M Banking, Kalo percaya mah. Kirim alamatnya sekalian biar besok sampe, kalo udah TF aku jalan,” ujar N seperti ditirukan I.
I menyebut baru memegang uang Rp1,2 juta. N menjawab tidak masalah dan akan menambah kekurangannya. I berpesan agar harga tidak melebihi Rp2 juta.
Sorenya, N mengabari sedang belanja benang lebih dulu dan meminta I bersabar. I menunggu hingga pukul 17.00, tetapi tidak ada telepon atau video call. Menjelang magrib, I menghubungi N lagi. N menjawab masih berkeliling dan akan istirahat salat magrib.
Karena suaminya hampir pulang, I memilih mempercayai N. “Bang, sudah aku percaya saja. Soalnya suami sudah mau pulang, takutnya kalau nanti telepon ada salah paham,” kata I.
Malamnya, saat I live, N muncul di kolom komentar dan menyebut sedang berada di JNT. Setelah live, I menanyakan total belanja dan ongkir. N meminta dilanjutkan besok karena mengaku capek.
Besoknya, N mengirim foto HP dengan segel sudah dibuka dan mengatakan, “Semalem di konternya aku suruh unboxing buat tes normal semua apa engga?” I menjawab, “Tapi aman semua kan bang?” N menyebut versi RAM 6/128 GB Rp2.150.000 dan RAM 8/256 GB Rp2.250.000. N mengaku membelikan versi RAM 8/256 GB.
“Aku ambilin yang RAM 8 sekalian gak apa apa ya? Beda 150.000 doang,” ujar N. I menjawab, “Ya sudah gak apa-apa, tapi kemarin aku bilang ke kakakku 2 juta, sisanya aku cicil gak apa-apa?” N menjawab kekurangannya bisa menyusul dalam tiga hari atau seminggu.
I kemudian meminta nomor telepon konter. N menjawab tidak mencatatnya karena ada di nota, dan nota dimasukkan ke dalam paket.
Siang harinya, N kembali menghubungi I dan meminta Rp500 ribu ditransfer sekarang karena uang itu merupakan modal usaha benang. I awalnya ingin membicarakannya dulu dengan kakaknya. Namun karena merasa tidak enak, ia akhirnya mentransfer Rp500 ribu. I menyampaikan pesan kakaknya, sisa pembayaran akan ditransfer setelah barang datang sebagai jaminan.
Pada sore 7 Oktober, I kembali menghubungi N karena barang tak kunjung sampai. “Bang, resi udah ketemu belum? Kok paketnya belum nyampe ya?” N menjawab, “Maaf masih di luar, sekalian aku ke JNT coba aku tanyain, resinya gak ketemu udah aku cariin.”
Malam harinya saat live di TikTok, N sempat naik komal dan bernyanyi di room temannya. I bertanya, “Bang WA gak aktif?” N menjawab HP temannya mati dan sedang di-charge. Setelah live, N mengirim pesan via DM TikTok dan mengatakan kemungkinan barang sampai besok karena sore tadi sudah sampai di Cirebon.
Keesokan harinya I kembali menghubungi via WhatsApp, namun nomor WA sudah tidak aktif. Ia mencoba mengirim pesan via DM TikTok namun tak kunjung dibalas. I sempat menghubungi teman N untuk menjadi perantara, namun sore harinya nomor tersebut juga tidak bisa dihubungi.
Hingga saat ini, N menutup semua jalur komunikasi, mulai dari WA dan memblokir akun TikTok I beserta teman dekatnya.
Pengalaman I menjadi catatan bagi konsumen agar berhati-hati dalam transaksi pembelian barang secara perantara. Video call ke konter, nota, dan kesepakatan tertulis menjadi hal penting agar kedua pihak terlindungi. (Lzr)



