
OGAN KOMERING ILIR, MEDIARAKYAT.CO || Setelah Virus Covid 19 melanda seluruh dunia termasuk Indonesia. Tradisi Adat istiadat yang setiap tahunnya kini di lakukan kembali oleh masyarakat Kayuagung yakni Midang Morge Siwa (Karnaval Budaya 9 Kelurahan).
Biasanya diselenggarakan pada setiap Lebaran Idul Fitri (H+3 & H+4), dimana budaya ini telah dilakukan ketika Marga Kayuagung (Morge Siwe) sejak masa penjajahan belanda dan dibawah keresidenan Palembang darussalam.
Midang morge siwe ini pun merupakan sebuah warisan budaya dan kebanggaan masyarakat suku Kayuagung (Marga Kayuagung) yang menunjukan budaya tradisonal daerah sebagai adat yang dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat.
Budaya ini bertujuan untuk diperkenalkan kepada masyarakat luar daerah kayuagung serta sebagai objek wisata lokal sejak jaman keresidenan Palembang sebagai pemersatu dan silaturahmi antar sesama di morge siwe dan merupakan ciri khas budaya serta adat istiadat lokal.
Pasca serangan Virus Covid 19 sejak 3 tahun lalu (2019) yang sempat vacum, kini di tahun 2023 pertama kali dilakukan sebagai kearifan lokal yang mulai hilang.
Mirisnya, setelah dilakukannya acara midang morge siwe ini perdana Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Propinsi Sumatera Selatan seakan tidak serius dalam pelestariannya, pasalnya dari pemkab OKI sendiri tidak memberikan bantuan dana kepada peserta yang ikut midang ini.
Alhasil masyarakat yang ikut midang morge siwe dan diketuai oleh perangkat kelurahan dan masyarakat harus menanggung sendiri biaya yang dikeluarkan bahkan harus melakukan penggalangan dana kepada masyarakat di Kelurahan masing-masing dengan mendatangi tiap rumah penduduk.
Ironisnya, setelah bersusah payah dan dana terkumpul hingga midang ini berhasil di selenggarakan sesuai dengan jadwalnya pada idul fitri H+3 dan H+4 sebagai kebanggaan masyarakat ini dengan harapan dapat dilihat dan diberikan suport oleh Bupati OKI (H. Iskandar, SE) tidak hadir dan belum dipastikan apa alasannya tidak berada dirumah dinas tersebut.
Berdasarkan pantauan media ini dilapangan, dirumah dinas bupati OKI sebagai pemberi support hanya dihadiri oleh, Ketua Tim PKK OKI Hj. Linda Sari Iskandar, Sekda OKI H. Husin, S.Pd, MM, M.Pd, Asisten 1 Drs. Antonius, Kepala OPD dan Tokoh Masyarakat. Senin (24/04).
Sekretaris DPD PGK OKI Rivaldy Setiawan, SH mengungkapkan akan kekecewaannya terhadap Bupati OKI yang tidak dapat hadir pada midang perdana morge siwe pasca covid 19 lalu.
”Kemana Bapak Bupati OKI, H.Iskandar, SE padahal budaya Midang Morge Siwe yang dilaksanakan hari pertama kami selaku pemuda sangat antusias mengikutinya setelah kita dilanda covid 19 beberapa tahun ini hingga kebudayaan tahunan ini ditiadakan. kami masyarakat kayuagung dan Kabupaten OKI khususnya belum terlihat ataupun ketemu dengan bapak Bupati OKI. Padahal ajang kebudayaan ini menjadi ciri khas budaya ketika lebaran. Kemana Bapak Bupati OKI H.Iskandar, SE”, paparnya.
Lanjutnya, padahal ini moment tahunan dan Midang ini juga rutenya mengeliling kesembilan kelurahan yang ada di kayuagung. Demi terlihat dan mendapat support dari pemkab OKI atau Bupati OKI secara langsung biar panas dan hujan hal ini tidak dihiraukan oleh peserta midang.
“Dengan tidak adanya Bupati OKI dirumah dinasnya itu, kami selaku masyarakat sangat kecewa. Padahal beliau akan mengakhiri masa jabatanya yakni 2 periode. Namun tidak dapat memberikan kesan terbaik kepada masyarakat OKI”,cetusnya.
Sekretaris Daerah OKI H. Husin, S.Pd, MM, M.Pd mengatakan Bagian dari upaya kita melestarikan adat budaya yang menjadi kearifkan lokal dan ciri khas masyarakat Kayuagung Ogan Komering Ilir. Event ini telah menjadi kegiatan tahunan,”Ungkapnya. (Senin, 24/04).
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata OKI Ahmadin Ilyas mengatakan rangkaian midang tahun ini sudah dimulai sebelum Ramadan lalu melalui lomba busana virtual.
“Seiring perkembangan zaman midang tahun ini dikemas lebih meriah, melibatkan anak-anak muda agar mencintai budayanya, kita gelar perlombaan busana secara virtual,”terang dia.
Lanjutnya, Kalau mudik ya midang ini kita nanti-nanti, Alhamdulilah meski zaman berubah adat budaya ini tetap terjaga. Saya mengapresiasi Pemkab OKI.
“Sebelumnya tradisi midang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) oleh Kemendikbud RI serta telah mendapat sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari pemerintah pusat sebagai khasanah kekayaan budaya masyarakat Kayuagung”, Jelasnya. (nov/tim)





