
JAKARTA, MEDIARAKYAT.CO || Harapan Meti Sepriyani untuk menyelesaikan pendidikan anaknya kandas, pasalnya ia tak mampu untuk membiayai sekolah putrinya Clara Novelia Zumaesa lantaran kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya.
“Clara saya sekolahkan di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, SMP Manba’ul Ulum. Saat ini putri saya Clara sudah duduk di kelas IX. Setahun belakangan kehidupan ekonomi keluarga kami tengah mengalami kesulitan, terlebih lagi saat terjadinya pandemi covid lalu”, ujar Meti.
“Pada akhirnya kesulitan ini berdampak pada tersendatnya biaya sekolah anak saya Clara hingga setahun terakhir”, lanjutnya.
Seorang ibu mana yang tega membiarkan putrinya berada dalam tekanan psikologis karena menunggak biaya SPP. Dirinya telah melakukan berbagai upaya untuk memenuhi tunggakan biaya SPP tersebut, namun ternyata Tuhan berkendak lain.
“Usaha telah kami lakukan, namun hasilnya nihil. Sehingga kami belum sanggup memenuhi kewajiban kepada pihak Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang dalam hal ini SMP MANBA’UL ULUM”, terangnya.
Sedihnya lagi, betapa terpukul saya sebagai ibu saat mendapat kabar putri saya Clara akan dipulangkan, sementara masa pendidikan belajarnya tinggal setahun lagi.
“Berita tersebut akhirnya menjadi kenyataan saat saya mendapati wajah sedih Clara pulang ke rumah dengan membawa secarik kertas atas nama Clara Novelia Zumaesa tertanggal 25 Agustus 2022 sebagai dasar pemulangannya karena tunggakan SPP yang ditandatangani Abdul Rahman Malik sebagai Kepala Sekolah dan Wakabid Kesiswaan”, terangnya menceritakan isi surat yang dibawa anaknya pulang.
“Saya menyerah dan akhirnya harus menerima kenyataan. Bahwa kesulitan ekonomi yang keluarga alami saat ini tidak akan memungkinkan untuk melunasi tunggakan SPP dalam waktu dekat, dimana tenggang waktu yang sekolah berikan hanya sampai tanggal 4 September 2022. Tetapi mirisnya, putri saya Clara masih berkemauan besar sekolah, sehingga saya putuskan untuk masuk sekolah paket B setara pendidikan SMP”, ungkap Meti dengan nada sedih.
Kemudian masalah baru timbul, Sekolah paket B ternyata membutuhkan surat keterangan pindah sekolah, sementara pihak Pondok Pesantren Asshiddiqiyah tidak dapat memberikan surat keterangan pindah tersebut sebelum Clara melunasi tunggakan SPP.
Sebagai ibu yang memiliki harapan besar agar putrinya dapat mengenyam pendidikan menemui jalan buntu. Nasib pendidikan putri saya Clara di ujung jurang.
“Harapan masa depan terasa gelap. Kemana suara saya sebagai seorang ibu yang ingin anak perempuannya tetap memperoleh pendidikan yang merupakan hak dasar setiap anak di negeri ini? Atas nama seorang ibu, siapapun disana, saya ingin suara saya di dengar”, pinta Meti penuh harap.
Meti juga mengharapkan ada orang yang bersedia membantu untuk menyelesaikan permasalahan ini dan menghubungi dirinya di nomor telepon 087711801077. (cg)





