
Bandar Lampung, mediarakyat.co || Datangnya bulan Ramadan sangatlah dinanti-nanti oleh umat islam di seluruh dunia, tak terkecuali umat islam di Indonesia. Dinantinya bulan Ramadhan karena Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kebaikan, keindahan, kemuliaan, keagungan, sekaligus manfaat jasmani dan rohani.
Jaelani, S.E., M.M. Dosen FEB Universitas Teknokrat Indonesia Lampung mengatakan bahwa bulan Ramadhan juga sangat dinanti oleh kalangan pedagang, mulai pedagang besar ataupun pedagang kecil yang omsetnya cukup lumayan. (03/04)
“Mulai pedagang reguler yang biasa menjual dagangannya setiap hari hingga pedagang musiman yang hanya berjualan pada saat Ramadhan tiba. Ramadhan bisa diartikan juga sebagai bulan belanja. Sehingga dijadikan momentum untuk mendapatkan laba oleh para pedagang.” ungkap Jaelani
“Dimana geliat belanjanya sudah terasa dua hari sebelum Ramadhan tiba. Dan puncaknya akan semakin terasa pada saat Ramadhan memasuki minggu ketiga. Hal ini terjadi ditandai dengan mulai dibagikannya THR kepada karyawan swasta dan ASN (Aparatur Negeri Sipil)”, lanjutnya.
Ditengah kondisi ekonomi yang masih belum stabil, Ramadhan dapat dijadikan momentum untuk memicu aktivitas ekonomi baik skala kecil maupun besar. Pasalnya, momen ini punya andil yang sangat signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi masyarakat indonesia.
Bulan Ramadhan menjadi variabel penting ketika perilaku konsumen mengalami perubahan konsumsi. Banyak situasi pembelian yang hanya terjadi dibulan Ramadhan dan tidak terjadi pada bulan-bulan lain. Sebut saja kebiasaan masyarakat yang menyiapkan takjil untuk berbuka.
“Selepas waktu Ashar, para pedangan sudah mulai mempersiapkan dagangannya hampir di setiap pinggir jalan. Ketika waktu sudah mendekati satu jam sebelum berbuka maka situasi akan semakin “riweh”. Terlihat suasana yang cukup ramai, dimana pedagang dan pembeli seakan-akan berlomba-lomba menuntaskan transaksi karena waktu berbuka akan segera tiba.”, ujar Jaelani
“Tingginya harga minyak goreng dan panasnya situasi antara Rusia dan Ukraina sepertinya tidak akan banyak mempengaruhi gairah belanja masyarakat indonesia padahal inflasi sedang tinggi-tingginya. Sebagaimana hasil laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa inflasi inti tahunan pada bulan Maret 2022 mencapai 2,37% (year-on-year/yoy). Pada grafik Inti Tahunan level ini adalah yang tertinggi dalam 6 bulan terakhir, sekaligus hampir dua kali lebih tinggi bila dibanding inflasi inti tahunan yang terjadi pada bulan Maret tahun lalu yang berada di level 1,21% (yoy)”, Papar Jaelani
Lanjutnya, Indonesia sangatlah beruntung karena merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Berdasarkan laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) atau MABDA bertajuk The Muslim 500 edisi 2022, ada 231,06 juta penduduk Indonesia yang beragama Islam. Jumlah itu setara dengan 86,7% dari total penduduk Indonesia. Dengan banyaknya muslim, maka bulan Ramdhan hingga hari lebaran akan menjadi momen spesial untuk dipersiapkan perayaannya.
Pada saat lebaran tiap rumah menyiapkan hidangan untuk keluarga dan handai taulan serta tamu yang datang bersilaturrahmi. Belum lagi tradisi mudik yang menjadi momen unik yang dapat menghidupkan kembali moda transportasi umum darat, laut dan udara.
Nielsen Global Survey dalam satu studi yang pernah dilakukannya menyebutkan, momen lebaran selalu mampu mendongkrak permintaan akan barang konsumsi. Permintaan yang tinggi ini terjadi merata, baik di pasar modern maupun di pasar-pasar tradisional.
“Meski pandemi Covid-19 masih berlangsung di negeri ini. Harapannya, Ramadan tahun ini jauh lebih baik dibandingkan Ramadhan tahun lalu seiring dengan mulai terkendalinya wabah Covid-19 dan masyarakat yang telah mampu beradaptasi dengan kebisaan baru”, pungkasnya. (lzr)








