
JAWA BARAT, MEDIARAKYAT.CO – Di balik aroma gurih mie ayam yang menggugah selera, tersimpan kisah perjuangan dari usaha kuliner keluarga bernama Mie Ayam Legenda. Didirikan sebagai bentuk pelestarian resep turun-temurun, bisnis ini kini dikelola oleh Regina, generasi penerus yang berusaha menjaga cita rasa sekaligus menghadapi tantangan berat di dunia usaha kecil menengah.
Regina mengungkapkan, meski semangat untuk terus tumbuh tidak pernah padam, langkahnya kerap terbentur masalah klasik: keterbatasan sumber daya manusia dan modal kerja.
“Tantangan terbesarnya itu kadang kita kekurangan tenaga (SDM), sama kepentok di modal,” ujarnya.
Keterbatasan ini membuat produksi menjadi tidak stabil, terutama ketika pesanan meningkat secara tiba-tiba.
Salah satu momen paling menantang terjadi ketika Mie Ayam Legenda menerima pesanan besar untuk produk chili oil, yaitu 2.500 botol dalam waktu singkat.
“Kadang aku di kemasannya, botolnya ini susah nyarinya. Terus ya gitulah, harga minyaknya kan kita pakai barang-barang yang premium, jadi kalau jual murah agak sulit,” jelasnya.
Bagi Regina, menjaga kualitas adalah prinsip utama yang tidak bisa ditawar. Semua bahan dipilih dengan hati-hati agar rasa dan standar produk tetap konsisten. Namun, komitmen pada kualitas tinggi itu justru menuntut biaya produksi besar, sementara dukungan modal belum selalu mencukupi.
Selain fokus pada kualitas, Regina juga mengambil keputusan strategis dengan menarik diri dari platform pemesanan makanan online.
“Tadinya sih kita online juga, tapi potongannya itu terlalu besar, 20%. Jadi kasihan pembelinya, jadi jatuhnya mahal kalau kita naikin 20%,” ungkapnya. Ia memilih jalur penjualan langsung agar harga produk tetap terjangkau bagi pelanggan setia.
Untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar dan memperluas jangkauan, Mie Ayam Legenda mulai mengembangkan produk turunan yang lebih tahan lama. Kini mereka memproduksi Abon Lele, Abon Tongkol, mochi, dan chili oil premium produk yang bisa dikirim ke berbagai daerah tanpa kehilangan cita rasa khas.
Diversifikasi produk ini menjadi strategi bertahan di tengah keterbatasan modal. Dengan cara ini, Regina tidak hanya mengandalkan penjualan mie ayam siap saji, tetapi juga membangun merek yang lebih luas melalui produk kemasan. Langkah tersebut terbukti membantu menjaga kestabilan bisnis saat penjualan harian tidak menentu.
Bagi Regina, Mie Ayam Legenda bukan sekadar usaha keluarga, tetapi simbol perjuangan dan keteguhan hati. Meski terkadang terhambat oleh modal dan tenaga kerja, semangat untuk mempertahankan cita rasa dan kualitas tetap menjadi bahan bakar utama. Di tengah banyaknya persaingan kuliner modern, Mie Ayam Legenda terus membuktikan bahwa kejujuran rasa dan ketekunan kerja adalah resep paling legendaris untuk tetap bertahan.
“Ini salah satu UMKM Binaan Jaringan Nasional Indonesia Baru (JNIB) dan masih banyak lagi binaan JNIB yang lainnya”, pungkasnya. (Cg)








