
BOGOR, MEDIARAKYAT.CO – Gus Roy Murtadho, pemimpin Pondok Pesantren Miskat al-Anwar Bogor, memberikan pandangan kritis terkait kisruh internal kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurutnya, publik tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan atas konflik elite organisasi, melainkan harus lebih prihatin terhadap kondisi warga Nahdliyin (NU) di akar rumput.
Prioritas yang Keliru “Tidak perlu sedih atas prahara seperti ini. Kita wajib sedih melihat warga NU banyak yang miskin, jadi korban perampasan tanah, bekerja sebagai buruh upah murah, jadi TKI, rumah tangganya berantakan dan lain sebagainya,” ujar Gus Roy melalui pernyataannya dalam sebuah postingan di media sosial X @MurtadhoRoy
Pandangan ini menyoroti kesenjangan prioritas antara isu-isu internal elite organisasi dengan persoalan riil yang dihadapi jutaan warga NU di seluruh Indonesia.
Kritik terhadap Orientasi PBNU
Kiai Roy secara tegas mengkritik arah kebijakan PBNU yang dinilai lebih fokus pada kepentingan elite daripada membela rakyat kecil.
“Ironinya, PBNU justru sibuk mengadvokasi elite,” tegasnya.
Kritik ini menunjuk pada kenyataan bahwa energi dan sumber daya organisasi lebih banyak tersedot untuk urusan politik praktis dan kepentingan kelompok tertentu, sementara jutaan warga NU menghadapi persoalan struktural yang mendesak.
Persoalan Riil Warga NU yang Terabaikan
Menurut Kiai Roy, ada sejumlah masalah mendasar yang seharusnya menjadi fokus utama PBNU:
Kemiskinan Struktural
Banyak warga NU masih hidup dalam kemiskinan
Akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang terbatas
Ketimpangan ekonomi yang terus melebar
Perampasan Tanah
Warga NU menjadi korban penggusuran dan perampasan lahan
Konflik agraria yang tidak terselesaikan
Kehilangan sumber mata pencaharian
Eksploitasi Tenaga Kerja
Menjadi buruh dengan upah murah
Kondisi kerja yang tidak layak
Minimnya perlindungan hak-hak pekerja
Nasib TKI
Banyak warga NU menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) karena desakan ekonomi
Rentan mengalami eksploitasi dan kekerasan di luar negeri
Kurangnya perlindungan dan advokasi
Krisis Sosial
Rumah tangga yang berantakan akibat tekanan ekonomi
Persoalan sosial yang kompleks di tingkat grassroot
Panggilan untuk Kembali ke Khittah
Pernyataan Gus Roy dapat dibaca sebagai panggilan untuk kembali ke khittah (jati diri) NU sebagai organisasi yang lahir dari dan untuk rakyat. NU secara historis dikenal sebagai organisasi yang membela kepentingan wong cilik (rakyat kecil), bukan sebagai alat politik elite.
Relevansi dengan Kondisi Saat Ini
Kritik Gus Roy menjadi relevan di tengah dinamika internal PBNU yang kerap menyita perhatian publik. Sementara elite sibuk dengan perebutan kursi dan pengaruh, jutaan warga NU di desa-desa, pesantren-pesantren, dan kampung-kampung masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Pesan Moral: Kembali kepada Rakyat
Pandangan Gus Roy Murtadho mengandung pesan moral yang kuat: organisasi besar seperti NU harus kembali fokus pada misi utamanya—membela dan mengangkat derajat rakyat kecil, bukan terseret dalam pusaran kepentingan politik elite.
Kesedihan yang sejati, menurutnya, bukanlah untuk konflik internal organisasi, melainkan untuk kondisi warga NU yang masih tertindas, miskin, dan terabaikan oleh struktur kekuasaan—termasuk oleh organisasi mereka sendiri.
Catatan: Pernyataan ini menjadi refleksi penting bagi semua organisasi keagamaan dan sosial untuk selalu mengingat akar dan tujuan awal pendiriannya—mengabdi kepada rakyat, bukan kepada kepentingan elite semata. (Cg)








